

Mulai dari ruang yang benar-benar kosong
Yang kami terima di awal bukan dapur lama yang perlu dirombak, melainkan ruangan kosong: dinding plester polos, keramik lama berukuran kecil, dan satu jendela di sisi kiri. Tidak ada titik air maupun jalur gas yang bisa dijadikan patokan — selain posisi jendela itu sendiri. Ruangnya pun tidak lebar. Kalau kabinet dipasang mengelilingi tiga sisi, orang yang memasak akan terasa terkurung, apalagi kalau ada dua orang di dapur pada waktu bersamaan.
Bentuk L, dengan jendela sebagai titik mulai
Kabinet disusun huruf L memakai dua dinding saja, menyisakan sisi seberang tetap lapang untuk lalu-lalang. Sink ditaruh persis di bawah jendela — bagian dapur yang paling lama ditunggui orang, jadi sekalian mendapat cahaya dan pemandangan keluar. Kompor menempati sisi panjang dengan hood tepat di atasnya. Warna dibagi dua: navy di bawah supaya noda tidak cepat terlihat dan ruang terasa punya pijakan, putih di atas supaya bagian atas tidak menekan. Laci alat makan ditempatkan paling dekat dengan area cuci.



| Korpus kabinet | Multipleks 18 mm, interior HPL putih |
|---|---|
| Finishing pintu | HPL matte navy dan putih, edging ABS |
| Countertop | Engineered quartz putih, tebal 20 mm |
| Backsplash | Keramik subway putih 7,5 x 15 cm |
| Hardware | Engsel dan rel laci soft-close |
| Handle | Metal, finishing brushed nickel |
| Sink | Stainless steel 304, pemasangan undermount |
| Lantai | Homogeneous tile abu-abu 60 x 60 cm |
